IKLAN

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Film "Masa Depan" persembahan Pasisi Film akan segera tayang

 Sibolga, Film sebagai media komunikasi audio visual mempunyai peranan penting bagi pengembangan budaya bangsa sebagai salah satu aspek peningkatan kesatuan dalam pembangunan nasional. Film yang akan di produksi pada bulan Februari 2018 merupakan sebuah film lainnya yang karya nyata bagi Anak pasisi Sibolga Tapteng  yang diciptakan oleh sanggar Jolong basusuk kota Sibolga.. “Dalam film ini juga menyisipkan pesan moral bagi generasi muda bagi masyarakat pesisir Sibolga Tapteng serta  Dalam film ini juga menyematkan terpelihara ketertiban umum dan rasa kesusilaan. Sipnosis dalam kandungan cerita dalam film nanti jakan menayangkan objek – objek wisata yang ada di kota Sibolga dan Tapanuli tengah.


Share:

Sejarah Datuk Itam(Datuk Poncan)

Menurut sejarah Pada tahun 1785 masa pemerintahan Abdul Muthalib gelar datuk Bandaharo kayo atau yang lebih di kenal dengan sebutan akrab Datuk Itam di Poncan Ketek telah mununjukkan kemajuan yang pesat dalam perdagangan sampai-sampai masyarakat berdagang ke pulau Malaysia.
                                                                        Abdul Muthalib, yang dikenal sebagai peletak adat Sumando di pesisir barat itu, dilahirkan tahun 1760 di negeri Nagur India Selatan dan Inggris membawanya ke Bengkulu sebagai pekerja dan sekaligus sebagai pedagang dan kelompok Datuk Itam membuka kampung Nugur di bengkulu yang sekarang dinamakan kampung Nala . Pada waktu mudanya Datuk Itam sebagai seorang pedagang ysng cukup berhasil dan juga sebagaipenyebar agama Islam yang di segani di bengkulu yang dalam perdagangannya dan penyebaran agama Islam sampai ke daerah teluk Tapian Nauli dan sebagai penyalur kepentingan pedagang Inggris di Bengkulu.

Pada waktu itu Inggris telah membuka kantor perdagangan di Teluk tapian nauli untuk mendapatkan garam, kemenyan dan kapur barus. Melihat perdagangan yang cukup ramai di Tapian Nauli maka Abdul Muthalib selanjutnya berdomosili di Tapian nauli yaitu pulau Poncan ketek. Karena keberhasilannya dibidang perdagangan maupun sebagai penyebar ajaran Islam di poncan ketek maka di beriah ia gelar Datuk Bandaharo Kayo, namun ia lebih di kenal dengan gear Datuk itam karena kulitnya memang hitam kelam sebab berasal dari India.

Beliau wafat pada tahun 1836 dan dimakamkan di Poncan Ketek, terbukti sampai dengan saat ini makam beliau masih ada di Pulau Poncan Ketek, beliau adalah sebagai sosok terpenting dalam peletak dasar adar Sumando di Teluk Tapian Nauli. Makam beliau sendiri orang lain kebanyakan tidak tau keberadaan makam ini, karena wisatawan lebih sering berkunjung ke Pulau Poncan Gadang ketimbang ke Pulau Poncan Ketek.

Dikarenakan pihak pemerintah pun tidak pernah memperkenalkan situs sejarah yang sangat penting di Kota Sibolga kepada wisatawan bahkan untuk mempromosikan dan melestarikan situs sejarah ini tidak dilakukan pemerintahan Kota Sibolga. Mari menjaga dan melestarikan situs sejarah yang sangat penting ini, salah satu pendiri Adat Sumando atau adat pesisi di Kota Sibolga dan Tapanuli tengah

Dengan beberapa gelar melekat pada dirinya, yakni Datuk Bandaharo Kayo, Datuk Poncan, dan Datuk Pasa, Datuk Itam yang bernama asli Abdul Muthalib, berasal dari keluarga besar Datuk Senggolo, yang lahir di Bengkulu tahun 1770, tepatnya di Kampung Nagar atau Kampung Nala. Nenek moyangnya sendiri berasal dari Nagore, India Selatan.

1793 diangkat menjadi pegawai pada kantor East Indian Company Bengkulu dan bertugas di Poncan Ketek yang menjadi benteng pertahanan Inggeris di daerah Tapanuli yang populer dengan nama Fort Tapanoully. Sejak itu, Datuk Itam aktif menyebarkan Islam disana dan tahun 1810 diangkat sebagai Datuk Poncan, menggantikan Datuk Poncan sebelumnya Sutan Mangaraja Lelo yang meninggal dunia.

Tahun 1815, ditandatangani Perjanjian Batigo Badusanak antara penguasa-penguasa wilayah di daerah Tapanuli dengan pihak Inggeris. Datuk Itam termasuk ikut menandatanganinya.

Tidak banyak catatan sejarah beliau di Bengkulu yang ada adalah beliau seorang mandor disebuah pertanian yang dikelola Inggiris, lalu di bawa (dipindahkan) ke Pulau Poncan. Beliau amat dicintai oleh orang disekitarnya karena amat senang membantu dan suka membela orang-orang pribumi.

Kesukaan beliau lainnya adalah menjadi pemimpin sekolah agama Islam yang mana murid-muridnya dibebaskan biaya dan murid-murid tersebut menyebar sepanjang pantai Tapanuli. Datuk Itam memiliki 3 orang Istri,

1. Tisa mendapat anak 1. Siti Aisyah, 2. Halimatus Sa’diah, 3. Abd. Salim, 4. Abd. Rahim
2. Rasia mendapat anak 1. Chadijah
3. Tarosi (dari Nias). 1. Ahmad

Untuk daerah Sorkam peranan Halimatus Sa’diah yang menikah dengan Abdul Somad dari Sikua melahirkan banyak orang-orang besar di Sorkam. Abdul Somad (Tuan Sirara) suka berlayar untuk berniaga di Poncan dan begitu berhasil dia lalu menetap di Poncan dan menikah dengan Halimatus Sa’diah.

Sebagian lagi turunan Abdul Somad merantau ke Sinabang (Aceh) dan Tabuyung (Mandailing Natal).

Kebiasaannya suka berlayar mengarungi Aek Sibundong keluar dari Bottot menuju lautan dan selalu membawa pisang sare (pisang barangan), yang amat disukai oleh para orang-orang India membuat nama pisang ini juga dikenal dengan ‘pisang kaling’ dan ini jugalah yang membuatnya berkenalan dengan anak Datuk Itam (Halimatus Sa’diah) dan menikahinya.

Pada tahun 1785 masa pemerintahan Abdul Muthalib gelar datuk Bandaharo kayo atau yang lebih di kenal dengan sebutan akrab Datuk Itam diPncan Ketek telah mununjukkan kemajuan yang pesat dalam perdagangan sampai-sampai Masyarakat berdagang ke pulau Malaysia. Abdul Muthalib dilahirkan tahun 1760 di negeri Nagur India Selatan dan Inggris membawanya ke Bengkulu sebagai pekerja dan sekaligus sebagai pedagang dan kelompok Datuk Itam membuka kampung Nugur di bengkulu yg sekarang dinamakan kampung Nala.

Pada waktu mudanya Datuk Itam sbg seorang pedagang yg cukup berhasil dan juga sebagaipenyebar agama Islam yang di segani di bengkulu yang dlm perdagangannya dan penyebaran agama Islam sampai ke daerah teluk Tapian Nauli dan sebagai supplier kepentingan pedagang Inggris di Bengkulu.

Pada waktu itu Inggris telah membuka kantor perdagangan di Teluk tapian nauli untuk mendptkan garam ,kemenyan dan kapur Barus .Melihat prosfek perdagangan yang cukup ramai di Tapian Nauli maka Abdul Muthalib selanjutnya berdomosili di Tapian nauli yaitu pulau Poncan ketek. Karena keberhasilannya dibidang perdagangan maupun sebagai penyebar ajaran Islam di poncan ketek maka di beriah ia gelar Datuk Bandaharo Kayo,namun ia lebih di kenal dengan gear Datuk itam karena kulitnya memang hitam kelam sebab berasal dari India. Di teluk Tapian nauli Abdul Muthalib (gelar Datuk Bandahar Kayo ) atau yang lebih di kenal dgn Datuk Itam di Poncan Ketek.Karena keberhasilannya tadi,maka sejak saat itu datuk itam mempelajari segala adat istiadat masyarakat etnis pesisir di Poncan Ketek . Pada tahun 1824diadakan perjanjian /traktat London dengan keputusan bahwa segala kekuasaan Raja- raja di seluruh Teluk Tapian nauli di hapuskan oleh Belanda dan para Datuk serta raja-raja/Kuria-kuria hanya mengurus tentang adat istiadat dan Budaya pesisir.

Pada tanggal 13 Maret 1815 pihak inggris mengadakan suatu ikatan perjanjian persahabatan dengan Datuk-datuk di teluk Tapian Nauli dengan kesimpulan istilah Batigo Badusanak , namun pada tahun 1839 Iggris menempatkan seorang commodore yang selalu disebut dengan tuan Kumandor di poncan ketek dan bertanggung jawab terhadap Pemerintah Inggris yang berpusat di Bengkulen.Berarti dengan adanya seorang wakil Pemerintahan Inggris di poncan Ketek,maka jelaslah sudah dalam hal ini raja-raja dan datuk-datuk di pesisir Tapian Nauli telah terjebak kedalam perangkap penaklukan Inggris. Tetapi pada masa itu hal seperti ini kurang dimaklumi oleh penduduk karena cara berpikir masyarakat yang belum luas serta di sibukkan oleh dagangannya masing2,sehingga apa ang direncanakan oleh Inggris dapat berjalan dengan lancar untuk menguasai raja-raja dan datuk-datuk serta masyarakat sendiri tidak merasa di perintah oleh Inggris melainkan perasaan mereka diperintah oleh raja-raja dan datuk saja.

Keadaan yang demikian bukanlah hanya terasa sampai kepada masyarakat yang menghuni Poncan Ketek .pangkat yang tertingi pada masa ini di pegang oleh Datuk sebagai anak nagari,jadi segala keputusan ditangannya. Pada tahun 1848 kerajaan Inggri yang diwakili oleh Jhon Princh telah melakukan timbang terima dengan perwakilan kerajaan Belanda antara Bengkulen dengan Tumasi (Singapura) sehingga pulau Poncan Ketek sampai ke Natal dan daerah pesisir lainnya ditimbang terimakan antara Kampung Pargodungan dengan pasar Onan Hilir Poriaha di kenegerian Tapian Nauli.

Setelah daerah pesisir Tapian Nauli jatuh kepada Belanda akibat pertukaran jajahan maka poncan Ketek bertambah ramai dalam dunia perdagangan sehingga timbullahhasrat Belanda untuk membuka negeri baru didaratan Tapian Nauli dengan menimbun rawa2 yg luas pada tahun 1850 dan mengeluarkan biaya 5.000.000 gulden, karena mendatangkan tahanan (sitarapan) bahasa pesisir yaitu orang2 yang di tawan belanda karena tidak mau mengikuti kata2 penjajah, sehinga seluruh bangsa Indonesia yang tidak senang dengan perbuatan Belanda ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara dan orang-orang inilah yang di paksa untuk mengerjakan /menimbun rawa2 di daerah yang dinamakan pasar Siboga dengan batas pertama kalinya :

- Sebelah Utara dengan Aek Doras (simare-mare). - Sebelah Timur dengan Padang Sidempuan. - Sebelah selatan dengan Ak Muara Baion. - Sebelah Barat dengan teluk Tapian Nauli (depan Gudang Garam ).

Pembangunan penimbunan rawa2 yang menjadikan Sibolga tidak hilang dari ingatan masyarakat sehingga telah terpatri dalam pantun Masyarakat pesisir yaitu Sikamabang : Siboga jolong basusuh Banda dikali urang rante Jangan manyasal Tolan Isuk Kami sapeto dagang sanse. Pantun yang mengandung sejarah tersebut telah terukir dalam ingatan dengan pengertian : Siboga jolong basusuh (Siboga dari awal disusun/dibangun) Banda dikali urang rante ( Parit dn rawa mulai ditimbun oleh para napi) Jangan manyasal Tolan Isuk (jgn menyesal kawan besok ) Kami sapeto dagang sanse. (kami sedikit dagang hancur ) Pada tanggal 1 Maret 1851 sebahagian masyarakat di perintahkan untuk pindah dari poncan Ketek ke pemukiman baru bernama Kampung Siboga  oleh Belanda bersama dengan Residen Van Tapanuli dan Datuk Itam yang juga bergelar Datuk Pasa membawa seluruh adat Sumando pesisir pindah ke Sibolga.

Dengan bertambahnya masyarakat dan bermigrasi dari Poncan Ketek ke sibolga ,maka bertambah pulalah penghulu2 ,dan stelsel Datuk masih diteruskan : dari penghulu yang berempat tadinya di poncan ketek sekarang ditambahkan dua lagi sehingga menjadi enam penghulu yaitu : 1. Penghulu Pasisir untuk etnis pesisir , dari poncan ketek dan batak Islam. 2. Penghulu Nie untuk etnis Nias dari pulau Tello 3. penghulu Darek untuk etnis minang kabau dan Aceh 4. Penghulu Jawa untuk etnis Jawa,madura ,Bugis dan Makasar. 5. PenghuluToba untuk etnis Batak Toba dari Taput. 6. Penghulu mandailing untuk etnis dari Tapsel. Selain dari pada penghuluyang ada enam di tambah lagi Kapiten kaling untuk mengurus orang2 India dan Kapiten Arab untuk org Arab serta Kapiten Cino untuk orang2 China. Dalam hal ini jelas bagi kita bahwa penetapan Sibolga pertama kali dengan resmi adalah sejak perpindahan penduduk Poncan Ketek ke sibolga karena sibolga telah di bangun pada tahun 1850 dan resmi pulalah Sibolga pada tanggal 1 Maret 1851 menjadi Sibolga dengan peresmian adat Sumando Etnis pesisir.
Share:

Panggang Paccak Makanan Ciri Khas Sibolga-Tapteng

Panggang paccak adalah ikan bakar diperciki (di paccak = bahasa pesisir) bara api langsung padam, membuat asap bergulung ke atas, terciumlah aroma wangi yang sulit dilukiskan.                                    Panggang paccak ini kalau di restoran Padang biasanya disebut ikan bakar bumbu. Tetapi masakan khas pesisir Tapteng sungguh jauh berbeda, ikan yang mau di bakar harus yang segar dan pilihan. Karena dalam olahan panggang paccak tidak semua jenis ikan enak dijadikan panggang paccak.
Ikan yang biasa dan enak tersebut adalah, gambolo (kembung Banjar), aso-aso, bawal, pari kecil (tuko-tuko), kuek (gabu), cumi-cumi, udang kelong, dll.
Ikan terlebih dahulu dibersihkan, kemudian disayat (bukan dipotong) badannya melintang, agar nanti bumbu meresap saat diolesi/dipaccak.
Sebelum di bakar/dipanggang ikan direndam sebentar dalam bumbu, agar bumbu tersebut meresap kebagian perut ikan.
Bumbu utama adalah santan pekat dari kelapa tua yang sebagian daging buahnya digiling halus bercampur dengan santan, sehingga pekat. Berikut kunyit, garam, serai secukupnya.
Sebatang serai dibuat memar pangkalnya dengan dipukul batu cabe giling sebagai kuas atau paccak nantinya.
Api harus berbentuk bara yang tidak mengandung abu, agar nanti dikipas tidak menempel ke ikan. Atur ikan dipanggangannya dengan tidak saling menempel agar ikan matang merata.
Inilah beda ikan bakar Padang, karena di restoran Padang ikan yg mau dibakar terlebih dahulu dikukus agar dagingnya masak, lalu dioles bumbu dan dibakar agar kering, sehingga rasa bumbu hanya berada di daging bagian luar.
Pada olahan ikan bakar panggang paccak ala pesisir, ikan dari mentah sudah di bakar, dengan dibolak-balik, saat setengah masak atau kulit agak kering langsung di oles bumbu, dengan memercikkan ke badan ikan pakai batang serai tadi, yang di dalam bahasa pesisir Sibolga Tapteng disebut paccak.
Begitu kering dibalik lagi, ditambah lagi bumbu. Begitu terus menerus sampai bumbunya habis terpakai. Saat kita memercikkan bumbu tersebut, sontak tercium wangi yang membuat liur menetes.
Ikan panggang paccak ini sayangnya tidak selalu kita jumpai di kedai nasi di Sibolga dan Pesisir, karena para pemilik kedai nasi umumnya malas membuatnya dengan alasan repot.
Share:

Dinas Pariwisata Kab. Tapanuli Tengah Laksanakan Pesta Oi Dusanak Dan Lomba Perahu Tradisional Tahun 2017 di Pantai Bosur Pandan

Pandan.
Dinas Pariwisata Kabupaten Tapanuli Tengah (Dispar Kab. Tapteng) melaksanakan Pesta Oi Dusanak dan Lomba Perahu Tradisional Tahun 2017 bertempat di Pantai Bosur Pandan, Selasa (22/08/2017).
Pesta Oi Dunasak Kab. Tapteng yang sarat dengan Budaya Pesisir ini digelar dalam rangka pengembangan pariwisata dan pelestarian budaya serta memeriahkan HUT Ke-72 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah (Pemkab Tapteng) Ke-72 Tahun 2017.
Bupati Tapanuli Tengah (Bakhtiar Ahmad Sibarani) didampingi oleh Wakil Bupati Tapanuli Tengah (Darwin Sitompul) dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dengan pelaksanaan kegiatan Pesta Oi Dusanak ini yang sinergis dengan Visi Kab. Tapteng dan dapat menjadi even wisata tahunan Pemkab Tapteng dalam mendukung salah satu Misi Kab. Tapteng, yaitu mengembangkan potensi wisata secara serius menuju peningkatan ekonomi rakyat.
Bupati Tapanuli Tengah mengingatkan bahwa seluruh potensi wisata yang ada di Kab. Tapteng tidak berarti apa-apa bila hanya dibiarkan terlantar tanpa ada campur tangan baik pemerintah, pemangku kepentingan terkait maupun masyarakat. Ke depan diharapkan kegiatan ini tidak hanya seremonial semata tapi berupaya untuk meningkatkan pembangunan investasi pariwisata meliputi pembangunan dan penataan obyek wisata, ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, pengelolaan obyek wisata yang baik dan profesional, ketersediaan akomodasi serta kemudahan akses transportasi untuk menuju Kab. Tapteng secara umum dan lokasi obyek wisata khususnya. Bupati Tapanuli Tengah juga berharap Pesta Oi Dusanak ini kedepan lebih meriah dengan menghadirkan daerah-daerah pesisir lainnya.
“Saya berharap Pesta Oi Dusanak ini tidak berkesan seremonial. Kedepan dibuat kuliner pesisir khas Tapteng dengan mengundang daerah pesisir yang ada di Sumatera Utara bahkan dari berbagai daerah di Indonesia ini sehingga masyarakat luas tahu akan kuliner dan keindahan alam Kab. Tapteng,” kata Bupati Tapanuli Tengah.
Sebelumnya, Plt. Kadis Pariwisata Kab. Tapteng (Nursyam, SKM, M. Kes) dalam laporannya mengatakan bahwa kegiatan Pesta Oi Dusanak ini merupakan pelestarian budaya kepada para genari muda. Melalui kegiatan ini diharapkan generasi muda semakin tertarik untuk mencintai budayanya.
“Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Tapanuli Tengah Ke-72 Tahun 2017. Pada kesempatan ini juga turut digelar Lomba Perahu Tradisional di Laut Pantai Bosur Pandan,” kata Plt. Kadis Pariwisata Kab. Tapteng.
Selanjutnya, Bupati Tapanuli Tengah (Bakhtiar Ahmad Sibarani) membuka secara resmi Lomba Perahu Tradisional di Laut Pantai Bosur Pandan.
Adapun peserta Lomba Perahu Tradisional yang ikut lomba sebanyak 24 tim dari berbagai kecamatan di Kab. Tapteng dengan hasil, yaitu Juara I Tim Sibabangun, Juara II Tim Sorkam Barat, Juara III Tim Pandan III, Juara Harapan I Tim Sosorgadong I, Juara Harapan II Tim Manduamas, dan Juara Harapan III Tim Sosorgadong II.

Turut hadir pada acara Pesta Oi Dusanak ini, Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Tengah, Walikota Sibolga(Drs. H. M. Syarfi Hutauruk, MM),Forkopimda Kab. Tapteng, Ketua dan Wakil Ketua I TP. PKK Kab. Tapteng beserta jajarannya, Sekretaris Daerah Kab. Tapteng, para Staf Ahli dan Asisten, Pimpinan SKPD dan Camat se Kab. Tapteng, para ASN, Tokoh Agama, Tokoh Adat dan Masyarakat.

Share:

Sejarah Budaya Sikambang Di Pesisir Barat Tapanuli( 1990 - 2003 )

Skripsi ini berjudul ”Sejarah Kesenian Sikambang Di Pesisir Barat Tapanuli, 1990-2003”. Kesenian Sikambang merupakan kesenian masyarakat yang terdapat di Pesisir Barat Tapanuli, khususnya Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Kedua daerah ini merupakan pengguna Kesenian Sikambang. Hal itu masih ada sampai sekarang. Awal terciptanya Kesenian Sikambang ada dua sumber yakni: dari legenda Putri Rundu dari kerajaan Barus yang dipimpin oleh raja Jayadana dan dari nelayan yang mengangkap ikan di pulau Mursalah mendengar nyanyian yang kemudian diulanginya setiba di daratan yang kemudian berkembang jadi Kesenian Sikambang. Dalam perkembangannya Kesenian Sikambang memadukan beberapa unsur antara lain: musik, tarian, senandung dan pantun.Kesenian ini mengemban falsafah-falsafah kontemporer yang penuh denganmakna, berirama lagu dan berwujud tari. Uniknya, KesenianSikambang bukanlah akulturasi yang terserap dari kebudayaan tetangga seperti Batak dan Minangkabau, tetapi kesenian dri warisan peradaban kerajaanPesisir yang terdapat di Pesisir Barat Tapanuli.Secara garis besar Kesenian Sikambang ada tiga, yaitu: Sikambang sebagai seni, Sikambang sebagai hiburan dan Sikambang sebagai fungsi sosial.Penulisan skripsi ini menggunakan metode sejarah yang meliputi tahapan-tahapan heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang sejarah Kesenian Sikambang yang terdapat di Pesisir Barat Tapanuli dengan periodeisasi dari tahun 1990-2003. Semakin berkembangnya teknologi keberadaan Kesenian Sikambang mulai mengalami pergeseran. Hal itu terjadi karena pengaruh dari arus globalisasi yang berkembang saat ini. Kondisi ini tentu akan mempengaruhi Kesenian Sikambang di Pesisir Barat Tapanuli. Pada tahun 1990 Kesenian Sikambang masih dipergunakan masyarakat Pesisir sebagai sarana hiburan. Menjelang tahun 2000 Kesenian Sikambang mulai mengalami kemunduran.Kemunduran tersebut terjadi bukan tidak memiliki penerus, akan tetapi disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: perkembangan budaya modern, keengganan generasi muda, berkurangnya minat masyarakat dan efisiensi. kondisi ini dikhawatirkan akan memudarkan Kesenian Sikambang di Pesisir Barat Tapanuli, untuk itu peran pimpinan adat masyarakat pesisir Kota Sibolga-Tapanuli Tengah, peran Pemerintah dibantu oleh masyarakat yang mendukung Kesenian Sikambang sangat diperlukan untuk mempertahankan dan melestarikan Kesenian Sikambang.
Share:

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.

Popular Posts

Alamat

Featured Post

Ekspresinya Arumi

BTemplates.com

Label

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Recent Posts

Label Cloud

Berita (8) Budaya (5) CAMERA (1) Dokumentasi (2) Dunia (1) Islam (1) Nasional (3) Sejarah (3) Seni Tari (2) Sibolga (2) Traveling (1) Uang (3) Wisata Bahari (1)

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

Pages